SPPI II Pelindo Padang Tolak RUU Pelayaran
15 Maret 2008
Padang, Padang News Online-- Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia (SPPI) II Pelindo Padang Cabang Teluk Bayur menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelayaran yang kini tengah dibahas di Komisi V DPR RI. Sebagai bentuk penolakan, 8.000 karyawan PT Pelindo II yang tergabung SPPI II akan melakukan mogok kerja 25 Maret.Aksi ini dilakukan serempak di seluruh Indonesia oleh SPPI I-IV dan PT Pengerukan Indonesia.
Menurut Ketua SPPI II, Hendro Djoko Kardjono, RUU Pelayaran belum jelas dalam beberapa hal. Yakni aspek regulasi, bisnis, kepegawaian, dan pelayanan publik. Dan yang terpenting menurut Djoko yang juga menjabat Asisten Manager Teknik Sipil Pelindo II ini, jumlah karyawan Pelindo terancam dikurangi hingga 90 persen. “Jika saat ini ada 8.000 karyawan, maka dapat dibayangkan berapa orang yang akan dikurangi,” ujarnya.
Karena dalam RUU Pelayaran yang merupakan revisi dari UU Nomor 21 Tahun 1992 tersebut, kewenangan Badan Penyelenggara Pelabuhan (BPP) yang dimiliki Pelindo selama ini akan menjadi Badan Usaha Pelabuhan (BUP). Padahal kedudukan BUP berada di bawah BPP. Arti kata, jika selama ini Pelindo menjadi operator bagi kegiatan di pelabuhan maka akan menjadi terminal operator. Sedangkan BPP atau operator pelabuhan akan ditentukan kemudian dan Pelindo harus bersaing dengan BUP yang ada.
“Kita bukan anti perubahan. Tapi jangan sampai memotong eksistensi Pelindo yang telah ada saat ini. Dan bisa-bisa 90 persen rekan kami terancam rasionalisasi. Dalam aksi mogok nantinya, kami memohon kepada DPR untuk tidak melimpahkan kewenangan yang telah ada selama ini,” tegas Djoko. Ditambahkannya, jika ada perusahaan daerah yang akan membangun terminal sendiri, silakan saja. ”Kita bersaing secara sehat dalam memberikan pelayanan. “Bukannya dengan menghilangkan kewenangan yang ada selama ini,” tukasnya. (az/padang ekspres)
Siapa pihak yang sangat ingin membunuh Pelabuhan Indonesia? Dibalik RUU Pelayaran yang belum jelas itu? Tebak tebak buah manggis...
Membaca artikel di Kompas 2 Maret 2008 yang lalu, tersaji dibawah ini, perasaan terasa miris juga. Bahwa kelompok2 bisnis sangat kuat baya tawarnya. Mudah2an di Indonesia hal itu ga ada.... Dalam kasus perjuangan aspirasi kita, mungkin kita dapat menebak-nebak pihak pihak yang paling getol membunuh Pelabuhan Indonesia namun karena takut dsbnya kita berlindung dibalik istilah :Terasa Ada namun Terkatakan Tidak".
Simak artikel berikut, tarik analoginya....(kalau ngerti)
/Home/International
korban-korban
35.000 Pelobi yang Mendikte AS
Satuan Keamanan PBB Diterjunkan -->
Kompas, Minggu, 2 Maret 2008 01:04 WIB
Korban dari semua tindakan spekulasi ini sudah bertebaran, mulai bank di negara maju hingga konsumen di banyak negara. Kini banyak bank yang harus menambah modal baru karena kerugian.
Di sisi lain adalah konsumen yang sudah harus membayar harga makanan yang lebih mahal, seperti tempe, tahu, mi, dan minyak sayuran.
Semua ini terjadi karena ulah spekulan dan pedagang serta keberadaan 516 triliun dollar AS dana investasi global yang gentayangan di berbagai bursa global.
Namun, hal yang lebih memprihatinkan, sepak terjang spekulan itu belum bisa dihentikan hingga kini. George Soros mengatakan, aksi-aksi spekulasi seperti tidak akan bisa dihentikan. Intervensi bank sentral pun tak akan mampu menahan gejolak di pasar uang dan komoditas.
Investor obligasi terbesar asal AS, Bill Gross, juga memberi penilaian serupa. Keberadaan perusahaan-perusahaan investasi tanpa bisa dikontrol telah membuat para investor menyeruduk ke mana saja dan kapan saja.
Kontrol, kontrol, dan kontrol perusahaan investasi atau spekulan...! Inilah seruan yang terus mengemuka sejak tahun lalu, termasuk oleh Soros sendiri, sebagai mantan spekulan kelas kakap dunia.
Menanam bom waktu
Analis pasar AS, Paul B Farrel, mengatakan, ada 11 faktor penyebab masalah ekonomi dunia, mulai dari kesulitan ekonomi AS, kejatuhan harga saham di bursa, hingga gejolak harga.
Ada tiga yang paling menarik untuk dicermati, salah satunya adalah keberadaan 516 triliun dollar AS dana-dana investasi yang siap menggasak apa saja di pasar uang dan pasar modal. ”Dana-dana ini sedang memasang bom waktu,” kata Farrel.
Kedua, etika bisnis yang buruk dari para pemimpin korporasi dan pialang di Wall Street, bursa saham terkenal AS di New York. Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah keberadaan 35.000 pelobi, yang kini menguasai AS. ”Lupakanlah asas pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” kata Farrel di Fox Business News, 25 Februari. ”Mereka mendikte dan akan menghalangi regulasi yang akan membatasi sepak terjang mereka,” kata Farrel. (MON)
Rabu, Maret 26, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar